Demokrasi dan kemajuan ekonomi bangsa ada di tangan kita, di tangan
rakyat. Bila kita berhasil memilih pemimpin berkualitas, ekonomi akan
semakin baik. Kita menjadi lebih sejahtera. Orang miskin semakin
sedikit.
Kita sering lupa hukum alam bahwa pemimpin adalah cerminan masyarakat
yang dipimpinnya. Diktator Suharto bisa bertahan 32 tahun karena
masyarakat Indonesia waktu itu ada yang penakut, banyak yang oportunis
dan sebagian masih bodoh. Kediktatoran tak akan bertahan di tengah
masyarakat yang berani, kritis dan pejuang. Maka, ketika ekonomi
Indonesia semakin maju, pendidikan lebih merata, Suharto jatuh dengan
sendirinya, pada waktunya.
Asal dari kata “demokrasi” sendiri adalah pemerintahan oleh rakyat.
Dalam sistem ini, masyarakat yang menentukan maju-mundurnya bangsa. Lima
tahun sekali, rakyat harus memutuskan–dan sungguh-sungguh
memutuskan–apa yang terbaik bagi masa depan bersama.
Karena itu, sikap dasar pemilih yang cerdas haruslah kesadaran bahwa
masa depan bangsa ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan para
pemimpin dan politisi.
Duapuluh tahun silam, tahun 1998, sistem otoriter itu berhasil
dirobohkan. Suharto dijatuhkan. Masyarakat mulai hidup dengan harapan
baru. Bila Anda tak tahu bagaimana rasanya hidup di era Orde Baru,
bertanyalah kepada para saksi hidup. Mereka pasti akan mengamini bahwa
kehidupan kita saat ini jauh lebih baik dibandingkan di era
kediktatoran. Ekonomi kita benar-benar jauh lebih maju, lebih merata,
dan lebih adil dibanding di jaman Suharto; di mana mayoritas sumberdaya
ekonomi dikuasai kroninya sendiri.
Kita patut mensyukuri perbaikan yang sudah kita dapat. Kita patut
mensyukuri demokrasi. Kita patut mensyukuri bahwa masa depan ada pada
pilihan kita sendiri, di tangan kita sendiri.
Cara terbaik dalam bersyukur adalah melalui tindakan. Kita harus
rawat dan tumbuhkan demokrasi dengan sebaiknya. Dan, kita harus menjadi
rakyat yang baik, yang menggunakan kesempatan dalam menentukan masa
depan bangsanya dengan baik pula.
Apa yang kita putuskan, dalam sekelebat detik, di bilik suara, akan
menentukan wajah Indonesia dalam 5 tahun ke depan dan juga seterusnya.
Di bilik suara, dalam sekelebat detik, harapan akan masa depan yang
semakin baik digantungkan.
Selamat memilih. Selamat menjadi pemilih cerdas. Mari mensyukuri nikmat demokrasi dengan tindakan nyata.
